Kiriman dari: Ibnu Ansya'


Sumberpandan.com Peringatan Maulid Nabi atau oleh orang Madura disebut dengan istilah Mulodtan merupakan suatu kegiatan untuk mengingat, menghayati, mensyukuri dan memuliakan kelahiran Nabi SAW yang tak lain merupakan nikmat teragung dari Allah SAW karena telah mengutus beliau sebagai rahmat bagi semesta alam.

Metode kegiatannya pun beragam. Mulai dari bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, pembacaan sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Nabi SAW, mendengarkan lantunan salawat dan syair-syair kepada Rasulullah SAW seperti pembacaan maulid al-Barzanji dan ad-Dibai hingga berbentuk halaqah ilmiah seperti ceramah dan seminar keagamaan.

Ironisnya, dewasa ini tidak sedikit sempalan kelompok yang dengan berani dan gagah mengkritik dan menentang perayaan Maulid Nabi SAW yang sejak dulu begitu dijaga dan dilestarikan oleh sesepuh dan leluhur kita. Mereka menvonis perayaan Maulid Nabi SAW dengan bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Sehingga pelakunya pun langsung dijanjikan neraka jahannam. Astaghfirullah.

Namun Penulis hingga detik ini masih yakin, bahwa masyarakat Madura terlebih kampung Sumberpandan Alaskokon tidak akan terpengaruh terhadap rayuan gombal kelompok yang tidak begitu jauh dari sekitar kita tersebut. Sebab masyarakat masih setia dan patuh terhadap guru-guru yang sanadnya masih muttasil terhadap Rasulullah SAW seperti dzurriyah Syaichona Cholil dan Pondok Pesantren Sidogiri dalam berpegang teguh terhadap al-Quran dan Sunnah Rasul. Sehingga pemikiran-pemikiran nyeleneh tersebut akan hilang bak tumpukan debu yang disapu oleh angin topan haian.

Sebenarnya Penulis malu untuk memposting tulisan ini di website resmi MMU 06 ini. Sebab kedangkalan Penulis dalam bidang ilmu agama terlebih masalah baca kitab gundul serta kurang pentingnya tulisan ini sebab hanya membahas permasalahan klasik yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Namun berangkat dari keprihatinan Penulis terhadap suasana di luar kampung Sumberpandan yang mulai menjamur pemikiran-pemikiran yang keluar dari haluan Ahlussunnah wal Jamaah yang sudah mulai menggerogoti akidah yang kita genggam sejak belia.  Namun tidak menutup kemungkinan, untuk anak cucu generasi Sumberpandan yang akan datang akan berbalik arah dengan masa kita sekarang. Sehingga rasanya perlu Penulis mempublikasikan tulisan sederhana ini.

Berikut beberapa dalil yang melegalkan perayaan Maulid Nabi SAW yang telah Penulis rangkum dari beberapa kitab, buku, artikel dan ceramah keagamaan.



Sebagian Dalil Maulid Nabi SAW

1.    Al-Quran

Seperti yang telah maklum kita ketahui, berbahagia akan kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan suatu kepantasan bahkan keharusan yang memang mesti dilakukan ummatnya.  Sebab semuanya bermuara pada rahmat Allah SWT yang telah mengutus Nabinya kepada umat manusia.  Sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat al-Anbiya’ ayat 107,

وَمَا اَرْسَلْنَاكَ إلّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ (107
“Dan tiadalah Kami mengutus Kamu, melainkan  untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

Atas rahmat agung inilah kita diperintahkan untuk berbahagia, seperti yang telah ditegaskan oleh Allah dalam kitab Sucinya surat Yunus ayat 58,

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ (58

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah SWT dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”

Merujuk riwayat Abu as-Syaikh, menurut hemat Ibn Abbas RA maksud karunia Allah adalah ilmu, sementara rahmatNya  adalah Rasulullah SAW. Dengan tafsir ini dapat dipahami, bahwa kita diperintah untuk berbahagia atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang tak lain adalah Rahmat bagi semesta alam.

Dalam ayat lain seperti yang diungkapkan Ust. Idrus Ramli dalam websitenya, Allah SWT berfirman tentang Nabi Isa AS:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (114

“Isa putra Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama”. (QS. al-Maidah : 114).

Dalam ayat di atas, Allah SWT menegaskan bahwa turunnya hidangan dari langit yang dimohonkan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam, layak dijadikan hari raya bagi para pengikut Isa AS. Sudah barang tentu, lahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih utama dari pada turunnya hidangan dari langit tersebut. Apabila turunnya hidangan dari langit tersebut layak menjadi hari raya bagi pengikut Nabi Isa ‘alaihissalam, tentu saja lahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih layak lagi menjadi hari raya bagi umatnya yang dirayakan dalam setiap tahun.

Pemahaman kontenkstual semacam ini, dalam ilmu ushul fiqih disebut dengan Qiyas Aula dimana hukum yang dianalogikan lebih kuat dari pada hukum asal yang menjadi patokan analogi. Syaikh Ibnu Taimiyah (Syaikh yang sangat dikagumi kelompok Salafi Wahabi) dalam Majmu’ Fatawa-nya (juz 21 hal. 207), menganggap bahwa hukum yang disimpulkan dari pemahaman kontekstual (mafhum) melalui Qiyas Aula, lebih kuat dari pada hukum yang diambil pemahaman tekstualnya (manthuq). Menurutnya, penolakan terhadap hukum yang dihasilkan melalui Qiyas Aula, termasuk bid’ah kaum literalis (zhahiriyah) yang tercela.

2.    Hadis Nabi SAW

Dalam kitab Shahih Muslim juz 3 halaman 167 dalam Kitab as-Siyam disebutkan ketika Nabi SAW ditanya oleh para Sahabat kenapa beliau berpuasa setiap hari Senin, beliau menjawab:

"ذاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ اَوْ اُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ"

“Karena di hari itu aku dilahirkan, aku diutus dan diturunkan wahyu padaku”

Hadis di atas dapat disimpulkan, Nabi SAW saja merayakan kelahirannya dengan berpuasa setiap hari Senin, kenapa kita umatnya ingin merayakan kelahiran beliau setahun sekali saja dianggap bid’ah yang sesat? Apa karena sebab tidak dengan cara berpuasa? Padahal puasa adalah sebagian ibadah, baca al-Quran, bersedekah dan baca Shalawat pun juga ibadah.

Atau hanya karena Maulid Nabi yang seperti sekarang ini tidak pernah dilakukan Nabi lantas langsung divonis bidah yang sesat? Tentu ungkapan ini kurang arif dan tidak mendasar. Sebab sebagaimana yang telah maklum diungkapkan Imam Syafi'i, bahwa bid'ah terbagi dua, adakalanya terpuji (mahmudah) dan adakalanya tercela (madzmumah). Ditinjau dari adanya dalil yang dilegalkan oleh syariat atau tidak. Bahkan versi Imam Izzuddin bin Abd as-Salam bid'ah terbagi lima; wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.

Juga perlu dicatat, tidak semua yang tidak dilakukan Nabi langsung dianggap bidah yang sesat. Karena ada kalanya Rasulullah SAW tidak melakukan hal tersebut dengan beberapa alasan manusiawi. Misalnya, Nabi SAW menolak hidangan dhob (jenis hewan) ketika beliau ditawari karena beliau tidak selera, beliau bersabda “Aku tidak (selera) memakan dhob dan tidak aku haramkan” (HR. Bukhari dan Muslim). Atau karena beliau lupa, seperti ketika dalam salat beliau ditanya “Apakah ada hukum baru dalam salat?” Nabi SAW menjawab “Sungguh andai ada hukum baru dalam salat akan aku beri tahu kalian, namun aku hanyalah seorang manusia seperti kalian. Aku bisa lupa seperti kalian. Jika aku lupa maka ingatkanlah” (HR. Bukhari dan Muslim). Atau karena beliau hawatir akan diwajibkan bagi umatnya, seperti salat Tarawih. Atau untuk menjaga perasaan orang lain, seperti perkataan beliau pada Sayyidah Aisyah, “Andai saja masyarakatmu tidak dekat dengan zaman jahiliyah (kekufuran), niscaya aku alokasikan kekayaan ka’bah pada kepentingan perang” (HR. Muslim).

Atau juga karena ada penentuan waktu khusus (takhsis) untuk perayaan Maulid Nabi, sehingga dituduh bidah yang tercela? Padahal dulu tidak sedikit para sahabat yang mentakhsis atau menjadwal ibadahnya. Seperti salatnya Bilal bin Rabah RA setiap selesai bersuci berdasarkan ide kreatifnya sebagaimana yang telah dikisahkan Imam Bukhari dalam kitab Shahinya. Atau dua sahabat Nabi SAW yang selalu membaca surah al-Ashr sebelum mereka berpisah, sebagaimana diriwayatkan oleh ath-Tabrani dalam kitab Mu’jam al-Ausathnya. Atau penjadwalan mauidzah hasanah oleh Ibnu Mas’ud seminggu sekali, Ibnu Abbas setiap Minggu maksimal tiga kali dan saran Sayyidah Aisyah pada Ibn Abi Said, seorang dai kota Mekkah untuk memberi mauidzah seminggu maksimal tiga kali agar pendengar tidak bosan.

Begitu jelas kiranya, takhsish, penjadwalan, penentuan ataupun kebiasaan melakukan berbagai amalan yang sifatnya umum atau tidak dibatasi dengan waktu tertentu, tidak bisa menjadi alasan untuk mengklaim ibadah yang dilakukan sebagai bid’ah yang sesat, hanya karena biasa dilakukan pada waktu tertentu. Lain halnya bila sampai meyakini bahwa ibadah yang umum tersebut disyariatkan secara khusus pada waktu tertentu, maka keyakinan inilah yang harus diluruskan.

Dalam hadis lain yang membenarkan Maulid Nabi yang juga diungkapkan Ustad Idrus Ramli disebutkan,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, kaum Yahudi sedang berpuasa Asyura. Rasulullah saw bertanya: “Hari apa kalian berpuasa ini?” Mereka menjawab: “Ini hari agung, Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, lalu Musa berpuasa karena bersyukur kepada Allah, maka kami juga berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kami lebih berhak mensyukuri Musa dari pada kalian.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.” (HR. Muslim).

Dalam hadits shahih di atas, selamatnya Nabi Musa ‘alaihissalam dari kejaran Raja Fir’aun, serta tenggalamnya Fir’aun dan kaumnya, telah dijadikan momentum oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya untuk dirayakan setiap tahun dengan cara berpuasa. Lalu Nabi saw membenarkan puasa tersebut, dan bahkan beliau melakukan dan memerintahkan umat Islam agar berpuasa pada hari Asyura setiap tahun. Sudah barang tentu, lahirnya Nabi saw lebih utama untuk dijadikan momentum sebagai hari raya, dalam setiap tahun, karena derajat beliau yang lebih mulia dan lebih utama dari pada nabi-nabi yang lain termasuk Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:


“فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ للهِ عَلىَ مَا مَنَّ بِهِ فِيْ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ، أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذَلِكَ فِيْ نَظِيْرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلَّ سَنَةٍ، وَالشُّكْرُ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ… وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوْزِ هَذاَ النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ”.

“Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan tentang perbuatan bersyukur kepada Allah karena karunianya pada hari tertentu berupa datangnya kenikmatan atau tertolaknya malapetaka, dan perbuatan syukur tersebut diulangi pada hari yang sama dalam setiap tahunnya. Bersyukur dapat terlaksana dengan beragam ibadah… Kenikmatan apa yang kiranya lebih agung dari pada kenikmatan dengan lahirnya Nabi pembawa rahmat shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Hadis lain tentang dalil Maulid Nabi yang Penulis sunting dari buku Menjawab Vonis Bidah karya Tamatan Ponpes Lirboyo Kediri yang menjelaskan tentang aqiqah Nabi SAW bagi diri beliau sendiri. Padahal kakeknya, Abdul Muthalib, sudah mengaqiqahi beliau pasca tujuh hari kelahirannya. Maka, aqiqah Nabi SAW mesti dipahami sebagai rasa syukur atas kelahirannya di dunia ini, sebab aqiqah hanya disyariatkan satu kali seumur hidup. Seperti yang diungkapkan Imam al-Hafizh As-Suyuti berikut ini;

وقد ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهُ عَلى اَصْلٍ آخَرَ وَهُوَ مَا اَخْرَجَهُ البَيْهَقِي عَنْ اَنَس اَنَّ النَبِيّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ مَعَ اَنَّهُ قَدْ وَرَدَ أنَّ جَدَّهُ عَبْدَ المُطَلِّبِ عَقَّ عَنْهُ فِي سَابِعِ وِلادَتِهِ وَالعَقِيْقَةُ لا تُعادُ مَرَّةً ثانِيَةً فَيُحْمَلُ ذلِكَ عَلى أنَّ الذِيْ فَعَلَهُ النبِيُّ صَلّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّم إظْهَارٌ لِلشُّكْرِ عَلى إيْجَادِ اللهِ إيَّاهُ رَحْمَةً لِلعَالَمِيْنَ وَتَشْرِيْعٌ لِاُمَّتِهِ كَما كَانَ يُصَلِّي عَلى نَفْسِهِ لِذلِكَ فَيُسْتَحَبُّ لَنا أَيْضًا إظهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ بِالْاِجْتِمَاعِ واِطْعامِ الطَّعَامِ وَنَحْوِ ذلِكَ مِنْ وُجُوْهِ القُرُبَاتِ وَإظْهَارِ المَسَرَّاتِ

“Jelas bagiku mendasari maulid Nabi dengan dalil lain. Yaitu Hadis yang diriwayatkan al-Baihaqi dari Anas RA. “Sungguh Nabi SAW beraqiqah untuk dirinya setelah kenabian, sementara itu sungguh telah warid (datang dari Nabi SAW) sungguh kakeknya, Abdul Muthalib telah mengaqiqahinya pada hari ke tujuh setelah kelahirannya. Sedangkan aqiqah itu tidak diulangi kedua kalinya. Maka hal itu (mesti) dipahami bahwa yang dilakukan Nabi SAW adalah ungkapan rasa syukur karena Allah SWT telah menciptakannya sebagai rahmat bagi semesta alam, dan pemberlakuan Syariat bagi umatnya, seperti halnya beliau membaca salawat bagi dirinya karena tujuan pemberlakuan Syariat. Maka disunnahkan pula bagi kita mengungkapkan syukur atas kelahirannya dengan berkumpul, menyediakan hidangan dan semisalnya dari berbagai ibadah serta menampakkan kebahagiaan”

Masih dalam buku Menjawab Vonis Bidah, ada satu hadis lagi yang mendasari dilegalkannya mengadakan perayaan Maulid Nabi sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani tentang riwayat masyhur tentang peringanan siksaan bagi Abu Lahab, karena merasa bahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Gembong kafir Jahiliyah ini mendapatkan dispensasi dari beban siksaannya di neraka setiap hari Senin. Imam Bukhori mencatat;

قالَ عُرْوَةُ وَثُوَيْبَةُ مَوْلاةٌ لِاَبِيْ لَهَبٍ كَانَ أَبُوْ لَهَبٍ اَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُوْ لَهَبٍ اُرِيَهُ بَعْضُ اَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذا لَقِيْتَ قالَ أبُو لَهَبٍ لَمْ اَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ اَنِّيْ سُقِيْتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِيْ ثُوَيْبَةَ

“Urwah berkata “Tsuwaibah adalah sahaya Abu Lahab. Abu Lahab telah memerdekakannya, lalu ia menyusui Nabi SAW. Kemudian saat Abu Lahab mati, sebagian keluarganya bermimpi melihat kondisinya yang parah. Ia bertanya, “Apa yang kau jumpai?” Abu Lahab menjawab “Aku tidak menjumpai (kenyamanan) setelah berpisah (mati) dari kalian, hanya saja aku diberi minuman segini (sedikit) dengan sebab aku merdekakan Tsuwaibah”

Dalam riwayat as-Suhaili disebutkan, bahwa yang bermimpi adalah Sayid Abbas RA;
وَذَكَرَ السُّهَيْلِيُّ اَنَّ العَبَّاسَ قال لمَّا مَاتَ أبُوْ لَهَبٍ رَأيْتُهُ فِي مَنامِي بَعْد حَوْل فِي شَرّ حَال فقال مَا لَقِيْتُ بَعْدكُمْ رَاحَة إلّا أنَّ الْعَذابَ يُخَفَّف عَنِيْ كُل يَوْمِ اثنَيْنِ قالَ وذلِكَ اَنَّ النَّبِيّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَكَانَتْ ثُوَيْبَةُ بَشَرَتْ أَبَا لَهَبٍ بِمَوْلِدِهِ فَاعْتَقَهَا

“As-Suhaili menuturkan: “Sungguh Abbas berkata: “Ketika Abu Lahab telah mati, setelah setahun aku bermimpi melihatnya dalam keadaan parah. Lalu ia berkata: “Aku tidak menemukan kenyamanan setelah berpindah dari kalian. Hanya saja, sungguh siksaan telah diperingankan bagiku setiap hari Senin”. As-Suhaili berkata: “Hal itu karena sungguh Nabi SAW dilahirkan di hari Senin dan Tsuwaibah memberi berita gembira pada Abu Lahab dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lalu dia memerdekakan Tsuwaibah”.

Logikanya, Abu Lahab yang sejak lahir sampai mati tidak pernah terbesit iman saja diringankan siksaannya sebab hanya sekedar satu kali bergembira atas lahirnya Nabi SAW, sedangkan kita yang sejak lahir sudah iman dan berkali-kali bergembira akan kelahiran Nabi divonis bid’ah yang sesat, syirik dan termasuk penghuni neraka? Naudzubillah min dzalik.

Kesimpulan

Dari paparan di atas dapat kita petik sebuah kesimpulan, bahwa perayaan Maulid Nabi  SAW merupakan bid'ah mahmudah/hasanah yang dibenarkan bahkan dianjurkan dalam agama berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits sahih di atas. Sedangkan pendapat sempalan kelompok yang menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi SAW, termasuk bid’ah tercela (madzmumah) dan haram, adalah keliru dan memandang persoalan dari perspektif yang sempit dan terbatas.

Namun bukan berarti kami membenci mereka yang tidak mau bermaulid Nabi. Tafaddal, monggo, silahkan, yatoreh.. Toh kami tidak pernah mewajibkannya dan kami pun tidak pernah menvonis mereka penghuni neraka, apalagi sampai menganggap mereka syirik. Tapi, mohon jangan usik ketenangan akidah kami yang sejak dulu kami genggam dari para ulama salafus shalih ini. Wallahu a’lam.


Referensi:
As-Suyuti, Jalal ad-Din, ad-Durr al-Mantsur, Beirut: Dar al-Fikr, 1993
As-Suyuti, Jalal ad-Din, al-Hawi li al-Fatawi, Maktabah Syamilah
Ceramah Agama oleh Habib Taufiq as-Segaf, Habib Jindan dan Habib Rizieq Shihab.
Forum Karya Ilmiyah TAHTA Lirboyo, Menjawab Vonis Bid’ah!, Kediri: Gerbang Lama, 2010
Muhammad, Nur Hidayat, Benteng Ahlussunnah wal Jamaah, Kediri: Nasyrul Ilmi, 2012
Ramli, Idrus, Keagungan Pahala Merayakan Maulid Nabi Saw, http://idrusramli.com , 2013


Telah dibaca kali

Posting Komentar

  1. Alhamdulillah...
    saya benar2 bersyukur kpd Allah setelah mambaca artikel di atas mendapatkan referensi keilmuan yang cukup banyak.
    Kepada penulis saya haturkan banyak2 terimakasih

    BalasHapus
  2. makasih banget artikelnya mas brow.
    mohon ijin utk copas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo.. dengan senang hati.. (o)

      Hapus
  3. yg mengatakan bit,ah adalah orang2 yg mempromosikan kepercayaan barux ke masyarakat tp gk lku karn maulid nb selain snnh jg sdh jd tradisi

    BalasHapus
  4. Bid'ah? Iya..... Kenyataannya memang nabi tidak pernah melakukannya. Sesat? Tidak! Karena tidak semua Bid'ah itu sesat seperti Yg katakan oleh sayyidina Umar Bin Khottob RA ketika mengumpulkan orang di masjid untuk melaksanakan sholat terawih berjemaah: "ini adalah sebaik baiknya Bid'ah...." (nabi tdk pernah sholat terawih berjemaah). Dalil كل بدعة ضلالة bukannya tanpa pengecualian, seperti
    كل مسكر خمر و كل خمر حرام
    padahal Orang Yg mabuk karena kendaraan jelas bukan khomer sekaligus tidak haram....... Terakhir
    ﻣﻦ ﺳﻦّ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip.. Bener bgt.. Mantep.. (h) Seperti yang diungkapkan Habib Taufiq Asy-Syegaf, bahwa كل dalam hadis كل بدعة ضلالة tidak harus bermakna "semuanya", tapi bisa bermakna ammah (umumnya). Seperti beberapa ayat al-quran semisal:
      وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
      juga ayat lain كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

      Hapus
  5. kita bisa menyerang balik para wahabi dgn mempertanyakan, bagaimana hukumnya mengumpulkan alquran/firman Allah dlm satu buku/mushaf, bagaimana hukumnya memberikan tanda harkat pada firman Allah itu..... padahal jelas sekali mushaf/buku/kitab dan harkat itu tidak ada di jaman nabi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika dulu mereka bersikukuh bahwa semua bid'ah adalah sesat tanpa terkecuali. Namun, seiring dg banyaknya fakta ilmiyah yang tak terbantahkan, bahwa tidak semua bid'ah adalah sesat. Sehingga cukup membuat mereka tidak berkutik, akhirnya mereka mulai membuka dada meski tidak sepenuhnya menerima.

      Hingga kini sebagian dari mereka ada yg mulai mengklasifikasikan bid'ah menjadi tiga. Pertama Bid'ah dalam Agama ( البدعة فى الدين) yang mereka anggap sesat seperti tahlilan, maulid nabi, haul dll. Kedua Bid'ah Keagamaan ( البدعة الدينية ) atau mereka juga meminjam istilah bid'ah hasanah seperti pembukuan mushaf, shalat tarawih dll. Ketiga Bid'ah Lughowi (البدعة اللغوية) seperti menggunakan mikrofon, pengeras suara, metode pendidikan dll.

      Hapus
  6. Boleh.. Silahkan kirim via email yg tertera di Kontak Kami. Kalau memang sesuai kriteria, insyaAllah langsung kami publikasikan.. :))

    BalasHapus

 
Top