Sumberpandan.com SUMBERPANDAN - (20/3/1435) Pengurus Takmir Masjid Taqwimuddin Sumberpandan tadi malam menggelar acara Pemberian Penghargaan bagi Mutaallim al-Quran Terbaik dari masing-masing tingkatan. Mulai dari tingkat Mutaallim Sufla A, Sufla B hingga Wustho.

Program yang telah mereka canangkan sejak jauh-jauh hari tersebut dilaksanakan setelah melangsungkan shalat Maghrib berjamaah menggantikan program usbuiiyah Pengajian Rutinanan tiap malam Kamis dan malam Senin.

Acara yang berlangsung di serambi masjid bagian depan itu masih terbilang perdana yang bermula dari inisiatif dari Guru Tugas Pondok Pesantren Sidogiri, Ustad Hizbullah.

"Acara ini merupakan acara perdana yang bertujuan agar bisa menumbuhkan kesemangatan para Mutaallim dalam belajar al-Quran" Ujar Ustad yang berasal dari kota Malang tersebut di sela-sela sambutannya.

"Sebab dengan diadakan acara semacam ini mereka bisa berlomba-lomba dalam hal kebaikan tentunya" Imbuhnya.

Event yang dimoderatori Ustad Rifkiyanto itu dimulai dengan acara pembukaan oleh Bapak Muhammad Hisyam. Dilanjuti dengan sambutan atas nama Takmir Masjid Taqwimuddin oleh Ustad Mursyidi Syukri. Berikutnya acara penentuan mutaalim terbaik yang dikomandoi oleh Ustad Hizbullah.

Berikut nama-nama murid yang berhasil meraih penghargaan sebagai Mutaallim al-Quran Terbaik dari masing-masing tingkatan:

1. Shihabuddin putra Bapak Bairi (Bandung) dari tingkat Mutaallim Sufla A
2. Imamuddin putra Bapak Hasyim dari tingkat Mutaallim Sufla B
3. Mujahidin putra Bapak Imam Abdul Qohhar (alm) dari tingkat Mutaallim Wustho



Menurut informasi yang beredar, sebenarnya acara ini rencananya akan digabung dengan acara Pemberian Hadiah Imda I yang akan dihelat Selasa depan (26/3). Namun untuk menghindari perspektif miring dari masyarakat akhirnya dirubah dan dilaksanakan tadi malam. Sebab cara pandang orang berbeda-beda. Memang mayoritas beraanggapan baik namun tidak menutup kemungkinan yang lain beranggapan sebaliknya. Misalnya berperspektif acara tersebut hanya sebagai sensasi belaka.

Kita sadari cara pandang semacam itu meninjau dari motifnya. Apakan memang murni tumbuh dari hati dan pikiran yang jernih atau hanya didasari rasa iri dan benci. Sebab jika berangkat dari dua rasa ini, jangankan hal yang salah, yang jelas-jelas benar pun akan dianggap keliru. Wallahu A'lam.

Telah dibaca kali

Posting Komentar

 
Top