Menjernihkan Paham Aswaja [1]
Oleh: Abdul Mun’im Kholil, Lc.


Sumberpandan.com  

Mukaddimah
“Tak ada yang lebih sulit daripada menjelaskan sesuatu yang sudah jelas”, tulis Syeikh Said Ramadlan Al-Bouti dalam pengantar bukunya, Kubra Al-Yaqiniyat. Identitas Ahlussunnah wal jama’ah (atau biasa disingkat “Aswaja” di Indonesia dan “Sunni” di Barat atau Timteng) akhir dekade ini menjadi kabur akibat beberapa sekte yang memperebutkannya. Setidaknya ada 3 sekte besar Islam yang mengklaim secara bangga sebagai Aswaja: mazhab Asy’ari (NU di Indonesia), Maturidi, dan Wahhabi.
Nama harum Aswaja diperebutkan. Jaminan sebagai “sekte yang selamat” menjadi legitimasi bagi sekte tertentu untuk memasukkan maupun mengeluarkan sekte lainnya dari Aswaja, yang terkadang berujung pada ‘kekerasan’ pemikiran dan fisik. Dari sini perlu adanya upaya menjernihkan kekacauan ini. Tentu, sudah tidak cukup dengan memakai pendekatan ideologis, mitologis dan personifikatif mengingat kriteria Aswaja yang dikutip oleh Nabi sangat umum dan multi-tafsir. [2]

Identifikasi Aswaja

Setelah melalui penelusuran dan kajian yang cermat, saya berkesimpulan bahwa pendekatan sarjana klasik saat berusaha mengenal Aswaja sudah tidak memadahi. Manusia modern tidak puas dengan jawaban personifikatif Ibn Asyakir dalam Tabyin Kidzbi Al-Muftari tatkala ditanya mengenai Aswaja “mereka adalah pengikut mazhab Asy’ari dan Maturidi”. Apalagi jawaban yang hanya bersandar pada mimpi dan mitos.

Karenanya, perlu adanya sebuah pendekatan baru yang memuaskan untuk bisa mengenal lisensi Aswaja. Cara paling memuaskan adalah mengetahui “sumber hukum/pengetahuan” dan “metode” yang dipakai Aswaja dari masa salaf hingga masa kini. Dengan kedua pendekatan ini kita tak bisa terkecoh oleh simbol dan nama tertentu. Karena sudah mengenal Aswaja secara subtansial.
Sumber Hukum/Pengetahuan Aswaja

Seperti jamak diketahui bahwa sumber hukum/pengetahuan Aswaja terdiri dari empat fundamen: 1. Qur’an 2. Hadis 3. Ijma’ 4. Qiyas. Dengan empat sumber ini kita bisa jernih mengindentifikasi siapa yang masuk dalam/keluar dari  keluarga besar Aswaja.

Hampir semua sekte Islam meyakini Qur’an sebagai sumber hukum/pengetahuan. Tapi saat ini ada sebuah kelompok Qur’aniyyun [3] di Mesir, yang menyangsikan validitas dan keabsahan Hadis untuk dijadikan sumber hukum/pengetahuan. Sepertinya kelompok semacam ini terilhami oleh kajian Orientalis. Syi’ah juga melakukan seleksi ketat mengenai validitas Hadis. Mereka hanya mau menerima Hadis jalur Ahlul bait dan para imam makshum yang dua belas. Menurut pengakuan Ayatullah Husein Al-Kasyif Al-Ghita, sahabat Nabi yang masuk seleksi Syiah hanya 300 orang [4], selebihnya dianggap melenceng. Syiah hanya menjadikan 1. Qur’an, 2. Hadis Selektif dan 3. Perkataan Imam, sebagai sumber hukum.

Kita juga bisa tahu bahwa Muktazilah (saat ini diwakili kalangan rasionalis-liberal) keluar dari keluarga Aswaja karena mengingkari Ijma’ sebagai sumber hukum/pengetahuan. Bagi mereka, Ijma’ sulit untuk diwujudkan. Makanya tak bisa dijadikan pijakan hukum. Sementara mazhab Dzahiri tidak bisa masuk dalam keluarga besar Aswaja karena menolak Qiyas sebagai sumber hukum. Bahkan imam mazhab mereka mengarang khusus sebuah kitab, Ibtalu Al-Qiyas, atau penolakan tegas Ibn Hazm dalam kitab Al-Ihkamnya.
Metode yang Dipakai Aswaja

Pendekatan kedua adalah dengan mengetahui metode yang dipakai. Dalam kitabnya, Al-Madkhal Ila Dirasat Ilmi Al-Kalam, Dr. Hasan Asy-Syafii menjelaskan metodologi dan pisau analisis yang dipakai Aswaja sebagai pelestarian tradisi salaf dengan empat poin:
1. Menyeimbangkan akal dan teks. Meski keseimbangan yang dimaksud tak bisa diprosentase secara matematis. Aswaja tak membenarkan superioritas salah satunya. Kita tak bisa menerima keunggulan akal di atas teks seperti yang dilakukan Syiah dalam takwil batini-nya atau kalangan liberal yang melabrak teks secara semena-mena. Sebaliknya juga ulama Wahhabi yang seringkali ‘menyembah’ teks dan sangat kaku karena memilih anti-takwil.
2. Tak berlebihan dalam melakukan takwil; dengan tetap merelasikannya dengan kesepakatan gramatika bahasa yang dibakukan dan tak menerjang syariat.
3. Menerima semua dalil wahyu: Al-Qur'an, Ijma', hadis mutawatir (hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang/perawi dan tak mungkin berbohong), menolak hadis ahad (hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi) dalam teologi.
4. Berpegang teguh pada syariat tanpa memutar balik furu' (cabang agama) menjadi ushul (induk/pokok agama).           

Pendekatan ini bisa dijadikan pola identifikasi primer Aswaja. Sementara identifikasi lainnya yang banyak menghiasi buku-buku klasik-kontemporer bisa dijadikan pijakan sekunder (pelengkap). Terkadang data sekunder lebih menimbulkan perdebatan sengit. Semisal ‘bola panas’ ayat mutasyabihat, pengkafiran, pembid’ahan dst.

Takwil-Tafwidl Sebagai Mazhab Salaf
Masing-masing sekte merasa dirinya sebagai representasi sesungguhnya dari mazhab salaf (tiga generasi awal). Sebab salaf merupakan generasi terbaik seperti sabda Nabi. Namun sayangnya, generasi terbaik ini tak mungkin terulang karena jika terulang maka label “terbaik” menjadi tidak sesuai lagi. Yang bisa dilakukan oleh masing-masing sekte dan kelompok hanya berusaha mendekati kaum salaf.

Ayat atau Hadis mutasyabihat (keterangan sifat Allah Swt. yang mengindikasikan keserupaan dengan makhluk) menjadi titik tolak yang paling menentukan sekte mana yang paling mendekati salaf. Kelompok pengikut Ibn Taimiyah kemudian menjustifikasi bahwa satu-satunya cara berinteraksi kaum salaf dengan ayat mutasyabihat adalah memakai teori tafwidl (menyerahkan makna dan maksudnya hanya pada Allah Swt. tanpa menafsirkannya). Dengan klaim semacam ini Ibn Taimiyah dan penganjurnya secara otomatis akan mengeluarkan sekte-sekte yang menerima takwil, seperti mazhab Asy’ari-Maturidi.

Memang mayoritas ulama salaf memilih teori tafwidl. Namun bukan berarti tidak ada yang mentakwil. Setidaknya, kitab Al-Burhan karya Az-Zarkasyi dan Al-Itqan karya As-Suyuti memberi kesaksian bahwa Ibn Abbas, Mujahid, Sufyan bin Uyaynah, Ali bin Abi Thalib, Ibn Mas’ud, Imam Malik dan Al-Auza’i pernah mentakwil ayat Mutasyabihat.

Data ini menjadi penting untuk membuktikan bahwa teori tafwidl dan takwil sama-sama pernah dipraktikkan salaf. Bahkan di masa kini, seperti diakui Al-Bouti dalam Kubra Al-Yaqiniyat-nya, teori takwil lebih efektif untuk menjawab kegelisahan masyarakat muslim di hadapan mutasyabihat.

Hanya orang-orang yang memuja teks berlebihan yang menolak takwil. Akibatnya mereka terjerumus pada tajsim (mengimani Allah memiliki organ tubuh layaknya manusia) karena ternyata melampaui praktik tafwidl yang diajarkan salaf. Karena teori tafwidl yang dipraktekkan salaf benar-benar menutup ruang untuk mendiskusikan mutasyabihat di ruang publik. Sayyidina Umar ra. pernah melempar batu pada kerumunan orang yang membincang tentang mutasyabihat. Kesalahan Taimiyyin adalah mendiskusikannya secara terbuka sambil dengan manja mengaku meniru salaf.

Karakter Umum Aswaja; Penutup
Beberapa ulama mutaakhirin (yang muncul belakangan) seperti imam Ad-Dardiri (w. 1258 H) menyelidiki konsep teologi yang dibangun ulama-ulama sebelumnya hingga sampai pada kesimpulan bahwa yang paling mendekati kriteria metodologis salaf adalah mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali) dalam syariat, sekte Asy'ari-Maturidi dalam akidah dan suluk sufi ala Al-Juneid dan Al-Ghazali. Kemungkinan konsep Aswaja Nusantara mengadopsi pendapat ini sebagaimana termaktub dalam Risalah Kiai Hasyim Asy’ari. Meski belakangan Kiai Ahmad Shiddiq memperluas dengan menawarkan 3 karakter: At-Tawassuth (proporsional), Al-I'tidal (tegas bukan keras) At-Tawazun (seimbang).

DR. Said Faudah, teolog kenamaan abad ini, menolak secara tegas untuk memasukkan Ibn Taimiyah dan pengikutnya ke dalam keluarga Aswaja. Mengingat taksonomi tiga pilar tauhid (uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa sifat) yang digagasnya benar-benar berbeda dengan konsep salaf (baca: bid’ah). Karena siapapun yang mengadopsi teori trinitas yang digagas Ibn Taimiyah akan mudah memberi stigma “bid’ah” hingga “kafir” pada sesama muslim. Ini tentunya bertentangan dengan tradisi salaf yang menjauhi stigma tersebut.

Meski secara kuantitas pengikut Asy'ari-Maturidi sudah memenuhi salah satu kriteria umum Nabi Saw. sebagai kelompok mayoritas (as-sawad al-a’dzam), tapi Aswaja tak lantas semena-mena dalam memberi label lawan ideologisnya. Pengkafiran dihindari sebisa mungkin, meskipun terkait induk agama (ushul). Karena seperti dideskripsikan oleh Al-Ghazali dalam Faishal At-Tafriqah induk agama sendiri masih menyimpan ushul dan furu' lagi di dalamnya. Induk agama hanya tiga: iman pada Allah Swt., pada RasulNya dan pada hari kiamat. Selain yang tiga ini adalah furu' kecuali kesepakatan kaum muslimin yang didukung oleh hadis mutawatir.

Toleran, inklusif dan adaptif adalah karakter lain Aswaja. Terlihat bagaimana ulama Aswaja berinteraksi dengan nilai-nilai lokal dan tanpa ragu mengadopsi keluhuran budaya setempat selama tidak berbenturan dengan hukum yang qat’i (pasti). Toh, terutusnya Nabi juga untuk menyempurnakan akhlak mulya umat sebelumnya. Kata “menyempurnakan” memberi pengertian bahwa ada nilai-nilai dan budi luhur umat sebelum Islam yang diadopsi dan disempurnakan.

Afiliasi politik tertentu tak memberi pengaruh signifikan pada status “sunni”. Selama kukuh mengakui sumber hukum/pengentahuan di atas dan mempraktekkan metode yang telah disebutkan, maka seseorang tak lantas keluar dari (atau seenaknya mengaku) keluarga besar Aswaja. Saya terkejut tatkala Syeikh Abdul Halim Mahmud (salah seorang Grand Seikh Al-Azhar) menyimpulkan dalam kitabnya, At-Tafkir Al-Falsafi Fi Al-Islam, bahwa Imam Abu Hanifah adalah seorang pengikut Syiah-Alawiyah dalam afiliasi politiknya karena menolak membai’at Dinasti Umawiyah hingga runtuh, namun tetap seorang Sunni secara akidah. Jadi harus ada pemisah yang tegas antara afiliasi politik dan ideologi keagamaan.

Semoga ulasan singkat ini bisa memberi secercah cahaya yang mampu menjernihkan kembali konsep Aswaja yang semakin kabur. Entah karena faktor internal, dimana penganutnya sudah mulai melupakan jati diri sendiri, atau karena munculnya sekte arogan yang memasukkan dan mengeluarkan kelompok lain dari keluarga besar Aswaja secara ceroboh sebagai faktor eksternal. Wallahu a’lam []

______________________
[1] Dipresentasikan dalam acara “Pemantapan Akidah Dasar Aswaja”, di MMU 06 Sumberpandan, pada Selasa 10 Juni 2014
[2] Ketika Nabi ditanya siapa firqoh najiyah (kelompok yang selamat), beliau menjawab “mereka yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah” di riwayat yang lain “as-sawad al-a’dam (kelompok mayoritas)” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
[3] Dikepalai oleh Subhi Manshur, mantan dosen Al-Azhar fakultas Sejarah dan Peradaban, yang dipecat
[4] Lihat dalam bukunya: Ashlus Syi’ah. Salah satu buku primer yang wajib dibaca oleh pengkaji Syiah. Ditulis oleh salah seorang ulama Syiah sendiri.
       

Telah dibaca kali

Posting Komentar

 
Top