Oleh: Ibnu Ansya'



Sumberpandan.com • Mampu menunaikan ibadah haji merupakan keinginan setiap muslim. Sebab selain memang merupakan rukun Islam, juga mereka ingin melihat secara langsung ka'bah yang dijadikan kiblat bagi umat Islam seluruh penjuru dunia itu. Pun demikian dengan Raudlah, maqbarah peristirahatan Nabi Saw di Madinah al-Munawwarah yang jika berdo'a di tempat ini ijabahnya nyaris tidak akan pernah meleset.

Namun bagi muslim Indonesia untuk mampu menunaikan rukun Islam yang ke lima itu tidaklah mudah. Sebab begitu membludaknya permintaan Calon Jamaah Haji, kadang harus sabar menunggu hingga tujuh tahun, bahkan ada yang sampai sepuluh tahun lebih.

Bagi mereka yang beruntung dan berkesempatan untuk mengunjungi kota diturunkannya al-Quran pertama itu tentu butuh persiapan sebelum berangkat dan agenda ketika sudah tiba. Mulai dari pelatihan manasik hingga melakukan adat dan tradisi yang sejak dulu sudah mengakar di bumi Nusantara, seperti sowan ke guru-gurunya untuk meminta nasehat dan doa, selamatan sebelum berangkat, diziarahi sanak saudara ketika sebelum dan sesudah tiba di rumah dan memberikan hidangan terhadap mereka yang datang untuk berziarah padanya.

Namun mirisnya, kini tidak sedikit yang menuding tradisi tersebut tidak mendasar dan divonis bid'ah yang sesat. Padahal realitanya segala amaliyah di atas memiliki pijakan hukum yang jelas, baik dari hadist maupun ijma' ulama. Berikut Penulis suguhkan dalil-dalil yang melegalkan tradisi tersebut yang dikutip dari buletin Risalah besutan Aswaja NU Center Jawa Timur yang ditulis oleh Ustad Idrus Ramli.

Sowan ke Guru
Sebelum Jamaah Haji berangkat biasanya mereka menyempatkan terlebih dahulu untuk sowan ke ulama dan orang-orang shaleh untuk sekadar meminta doa dan nasehat. Hal ini berdasarkan hadis yang dishahihkan oleh Imam at-Tirmidzi dan bahkan oleh ulama' panutan salafi wahabi berikut ini:

عَنْ أَنَسْ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إلى النَّبِيّ صَلى اللهُ عَليه وَ سَلّم فقال يَا رَسُولَ اللهِ إنّيْ أُرِيْدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِيْ قَالَ زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى قَالَ زِدْنِيْ قَالَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ قَالَ زِدْنِيْ بِأبِيْ أَنْتَ وَأُمِّيْ قَالَ وَيَسَّرَ لَكَ الخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Dari Anas, berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mau bepergian, berilah aku bekal.” Beliau menjawab: “Semoga Allah membekalimu takwa.” Ia berkata: “Tambah lagi Rasulullah.” Beliau menjawab: “Semoga Allah mengampunimu.” Ia berkata: “Tambah lagi Rasulullah, aku tebus dirimu dengan ayah dan ibuku.” Beliau menjawab: “Semoga Allah memudahkan kebaikan bagimu di mana pun kamu berada.” (HR Tirmidzi, [3444], hadits hasan shahih).

Hadis tersebut secara gamblang menjelaskan bagaimana laki-laki tersebut mendapatkan wasiat yang sangat berharga dan doa yang begitu agung dari Rasulullah Saw. Seandainya laki-laki tersebut tidak sowan kepada Nabi Saw, tentu ia tidak mungkin mendapatkannya. Demikian pula, pesan-pesan dan doa para ulama dan orang shaleh sangat urgen bagi calon jamaah haji, yang akan melakukan perjalanan jauh, sebagai bekal selama melakukan ibadah kepada Allah di Tanah Suci.

Selamatan Keberangkatan
Selain menyempatkan sowan, biasanya para Jamaah Haji mengundang kerabat dan tetangga untuk acara selamatan keberangkatan, dengan harapan Allah memberi kemudahan selama melaksanakan ibadah dan dijauhkan dari segala musibah dan malapetaka. Imam Ghazali berkata:

(و) يُسْتَحَبُّ اَنْ (يَتَصَدَّقَ بِشَيْئٍ) وَلَوْ قَلِيْلًا كَلُقْمَةٍ اَوْ ثَمْرَةٍ (قَبْلَ خُرُوْجِهِ) فَإنَّهُ يَكُوْنُ سَبَبًا لِدَفْعِ الْبَلَايَا عَنْهُ. (السيد مرتضى الزبيدي، أتحاف السادة المتقين، جزء 3 صحيفة 324)

“Dianjurkan untuk bersedekah dengan sesuatu, walaupun sedikit seperti satu suapan atau satu biji korma, sebelum keberangkatannya, karena hal itu akan menjadi sebab tertolaknya berbagai musibah dan malapetaka.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumud Din, bersama Ithafus Sadatil Muttaqin, III/324).

Jika calon jamaah haji berniat memberikan sedekah kepada para undangan, tentu manfaatnya lebih besar. Sebab sedekah itu dilakukan untuk menolak bala’ dan bencana.

Ziarah Pra Keberangkatan
Ketika berziarah kepada calon jamaah haji, orang-orang biasanya juga meminta didoakan kepada Allah sesampainya di Tanah Suci, agar diampuni dosa-dosanya, hajatnya dikabulkan atau diberi kemampuan untuk menunaikan ibadah ke Makkah dan Madinah. Hal ini didasarkan kepada hadits shahih berikut ini:

عَنْ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُ اسْتَأذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي العُمْرَةِ فَقَالَ اَشْرِكْنَا فِيْ دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا

“Dari Umar, bahwa ia meminta restu kepada Nabi Saw untuk melakukan umrah, lalu beliau bersabda: “Wahai saudaraku, sertakan kami di dalam doamu, dan jangan lupakan kami.” (HR Ahmad I, 29, II/59; Abu Dawud [1498]; Tirmidzi [3557] dan Ibnu Majah [2894]. Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Berdasarkan hadits ini para ulama menjelaskan bahwa orang yang belum kesampaian untuk melakukan ibadah di Haramain, dianjurkan minta didoakan kepada yang kesampaian agar disertakan di dalam doa-doanya selama beribadah di Tanah Suci. (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif, hal. 421).

Berpamitan
Dalam acara selamatan calon jamaah haji biasanya berpamitan, meminta doa kepada orang-orang yang hadir dan mengucapkan selamat tinggal. Imam Ghazali berkata dalam Ihya’ ‘Ulumud Din sebagai berikut:

وَيَنْبَغِيْ اَنْ يُوَدِّعَ رُفَقَاءَهُ المُقِيْمِيْنَ وَإخْوَانِهِ وَجِيْرَانِهِ فَيُوَدِّعُهُمْ وَيَلْتَمِسُ أَدْعِيَتَهُمْ فَإنَّ اللهَ تَعَالَى جَاعِلٌ فِيْ أَدْعِيَتِهِمْ خَيْرًا

“Hendaknya ia berpamitan atau mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman, saudara dan tetangga yang tidak bepergian. Ia berpamitan kepada mereka dan meminta doa-doa mereka, karena Allah SWT akan menjadikan kebaikan dalam doa-doa mereka.” (Imam Ghazali, Ihya’ ‘Ulumud Din, I/247. Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Imam Nawawi dalam al-Idhah fi Manasikil Hajj wal ‘Umrah, hal. 62.)

Berpamitan dan meminta doa kepada orang-orang dekat tersebut, selain didasarkan kepada hadits Anas bin Malik di atas, juga didasarkan kepada hadits berikut ini:

 إذا أرَادَ أحَدٌ مِنْكُمْ سَفَرًا فَلْيُسَلِّمْ عَلَى إخْوَانِهِ فَإنَّهُمْ يَزِيْدُوْنَهُ بِدُعَائِهِمْ إلَى دُعَائِهِ خَيْرًا

“Dari Abu Hurairah ra, berkata: “Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu akan bepergian, maka hendaklah mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya, karena mereka akan menambah kebaikan kepadanya dengan doa mereka kepada doanya.” (HR Thabarani dalam al-Mu’jamul Ausath [2842]).

Dalam hadits lain, seperti dikutip oleh Imam As-Suyuti dalam Jamiul Kabirnya, Rasulullah Saw bersabda:

إذَا خَرَجَ أَحَدُكُمْ إلَى سَفَرٍ فَلْيُوَدِّعْ إخْوَانَهُ فَإنَّ اللهَ جَاعِلٌ لَهُ فِىْ دُعَائِهِمْ البَرَكَة

“Apabila salah seorang kamu hendak bepergian, bagi hendaknya berpamitan kepada saudara-saudaranya, karena sesungguhnya Allah SWT menjadikan doa mereka sebagai berkah baginya.” (HR. Ibnu Asakir, Ad-Dailami dari Zaid bin Arqam [1839]).

Kedua hadits di atas menjelaskan, bahwa doa orang-orang sekitar seperti kerabat, tetangga dan teman akan menambah berkah bagi seseorang dalam bepergian jauh, lebih-lebih bepergian untuk ibadah haji. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, I/269).

Selamatan Kepulangan
Sepulangnya dari tanah suci, jamaah haji biasanya menggelar selamatan lagi dengan mengundang saudara, tetangga dan teman dekat untuk makan bersama. Bahkan orang-orang yang datang berziarah juga diberinya makan. Hal ini didasarkan pada hadits shahih:

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasulullah saw ketika datang ke Madinah menyembelih unta atau sapi.” (HR. al-Bukhari, [3089]).

Hadits di atas menunjukkan disyariatkannya memberi makan kepada orang-orang yang datang berziarah kepada seseorang yang datang dari suatu perjalanan. (Al-Anshari, Minhatul Bari, VI/197 dan al-Qasthalani, Irsyadus Sari, V/188).

Ziarah Pasca Kepulangan
Tradisi masyarakat kita, ketika ada seseorang datang dari bepergian jauh atau menunaikan ibadah haji, masyarakat berbondong-bondong datang berziarah kepadanya. Tradisi ini berlangsung sejak generasi salaf. Imam al-Sya’bi – seorang ulama salaf -, berkata:

السُّنَّةُ اِذَا قَدِمَ رَجُلٌ مِنْ سَفَرٍ اَنْ يَأْتِيَهُ اِخْوَانَهُ فَيُسَلِّمُوْا عَلَيْهِ، وَاِذَا خَرَجَ اِلَى سَفَرٍ اَنْ يَأْتِيْهِمْ فَيُوَدِّعَهُمْ وَيَغْتَنِمَ دُعَاءَهُمْ

“Dalam ajaran sunnah, apabila seseorang datang dari bepergian jauh, maka saudara-saudaranya datang untuk mengucapkan salam kepadanya. Apabila ia akan keluar untuk pergi jauh, maka ia mendatangi mereka, berpamitan dan meminta doa mereka.”

Berangkulan
Dalam acara ziarah kepada jamaah haji, masyarakat kita biasanya bersalaman dengan lebih erat lagi yaitu dengan berangkulan. Tradisi ini berlangsung sejak generasi sahabat. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَنَسْ قَالَ كَانَ أَصْحَابِ النَّبِي : إذَا تَلَاقُوْا تَصَافَحُوْا وَإذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا

“Dari Anas Ra, berkata: “Para sahabat Nabi Saw, apabila bertemu saling bersalaman. Dan bila datang dari perjalanan jauh, mereka saling berangkulan.” (HR Thabarani, al-Mu’jamul Ausath [97]).

Pembacaan Doa
Dalam acara ziarah haji, sebelum para ziarah pulang, biasanya diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh sang haji. Hal ini didasarkan pada hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الحَاجِّ

“Dari Abu Hurairah Ra, berkata: “Rasulullah Saw bersabda: “Ya Allah, ampunilah orang yang menunaikan ibadah haji dan orang yang dimintakan ampun olehnya.” (HR Thabarani, al-Mu’jamul Ausath, [8821]; dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah [2348] dan Hakim [1544]. Lihat, al-Munawi, Faidhul Qadir, II/129).

Pemberian Hadiah
Tak jarang sang haji, memberikan hadiah kepada para tamu, dari oleh-oleh yang dibelinya di perjalanan. Hal ini didasarkan pada hadits:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : إذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ مِنْ سَفَرٍ فَلْيُهْدِ إلَى أَهْلِهِ وَلْيُطْرِفْهُمْ وَلَوْ كَانَتْ حِجَارَةً

“Dari Aisyah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu datang dari perjalanan, maka berilah hadiah kepada keluarganya, carikan hadiah yang menarik meskipun hanya sebuah batu.” (HR Daraquthni, as-Sunan [2448]; al-Munawi, Faidhul Qadir, I/531-532).

Demikian beberapa tradisi jamaah haji yang biasa dihelat oleh muslim Nusantara. Semuanya memiliki dalil yang kuat dan bila dilakukan tentu akan dijanjikan pahala. Wallahu a’lam.



Telah dibaca kali

Posting Komentar

 
Top