Oleh: Ibnu Ansya'


sumberpandan.com • Keutamaan hari raya Idul Adha atau yang lebih familiar dengan hari raya kurban lebih utama daripada hari raya  Idul Fitri, sebab dalilnya secara spesifik termuat dalam al-Quran:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”

Tidak hanya itu, Idul Adha juga berada di bulan yang begitu mulia, Dzul Hijjah yang memiliki dua ibadah yang tidak termuat di bulan lain, yaitu ibadah Haji dan Kurban.

Hukum melaksanakan salat Idul Adha adalah sunah. Waktu pelaksanaannya tepat tanggal 10 Dzul Hijjah terhitung mulai terbitnya matahari hingga tergelincirnya matahari sekitar jam 12.00 waktu istiwak.

Ada beberapa hal yang sunnah dilakukan di hari Idul Adha ini dan sayang sekali jika dilewatkan, sebab Idul Adha hanya bisa dijumpai sekali dalam setahun. Di antaranya:

1. Membaca takbir secara terus menerus sejak terbenamnya matahari malam tanggal 10 Dzul Hijjah hingga akan melangsungkan salat Idul Adha. Juga setiap selesai melaksanakan salat, baik salat fardu, sunah, qada’ maupun janazah, hingga tanggal 13 Dzul Hijjah. Lafadz takbir seperti:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Imam Syafi’i dalam kitab al-Um, menganjurkan setelah takbir ke tiga untuk ditambahkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

2. Memperbanyak ibadah di malam harinya. Seperti salat dan sedekah. Minimal bisa salat Isya dan Subuh dengan berjamaah.

3. Mengucapkan Selamat. Waktunya sejak subuh hari Arafah tanggal 9 Dzul Hijjah. Lafadnya menyesuaikan dengan kebiasan suatu daerah, di antaranya seperti ucapan:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ كُلُّ عَامٍ وَاَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Menurut pendapat yang mu’tamad, ucapan selamat sunah disertai dengan saling bersalaman dengan sarat bukan dengan lawan jenis.

4. Mandi untuk melaksanakan salat Idul Adha. Bisa dilaksanakan sejak pertengahan malam, namun yang paling utama dilaksanakan setelah salat subuh, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Bujairimi dalam kitabnya, Hasyiyah Bujairimi ala al-Khatib.

5. Memakai minyak wangi bagi laki-laki dan berhias diri. Baik bagi yang ingin melaksanakan salat Idul Adha maupun tidak, anak kecil maupun yang dewasa hingga yang sudah tua.

6. Mengenakan pakaian yang paling bagus dan yang paling mahal bagi laki-laki meski bukan warna putih. Berbeda dengan salat Jum’at yang lebih diutamakan menggunakan warna putih. Sebab kalau hari Jumat dimaksudkan menampakkan ketawadu’an namun ketika hari raya menampakkan kenikmatan atau kebahagiaan.

7. Mengenakan pakaian yang biasa dipakai di rumah bagi ibu-ibu yang sudah memenuhi persyaratan diperbolehkan melaksanakan salat Idul Adha. Seperti sudah mendapatkan izin suami, bukan termasuk wanita yang berparas cantik, bukan wanita yang genit dan bukan wanita yang masih remaja.

8. Tidak makan sesuatu apa pun sejak terbitnya fajar hingga selesai melaksanakan salat. Berbeda dengan idul Fitri yang disunahkan untuk segera makan supaya ada perbedaan antara hari raya dan puasa Ramadhan.

9. Melaksanakan salat hari raya di Masjid jika masih muat. Sebab masjid merupakan tempat yang paling mulia.

10. Berangkat lebih awal. Seperti sejak pagi buta.

11. Berangkat melewati jalan yang lebih jauh dan Pulang melalui jalan yang lebih dekat. Sebab berangkat lebih utama daripada pulang, sehingga pahalanya lebih banyak dengan menghitung berapa banyak kaki melangkah.

12. Bersegera melaksanakan salat Idul Adha dari waktunya, sekitar matahari naik satu tombak. Agar waktu untuk menyembelih kurban setelah salat lebih mencukupi.

13. Berkurban bagi yang mampu.

14. Makan daging kurban.

Demikian beberapa hal yang sunah dilakasanakan di hari raya Idul Adha yang telah Penulis sarikan dari beberapa kitab salaf, seperti kitab Hasyiyah al-Jamal, Hasyiyah Ianatut Talibin, Hasyiyah Bujairimi ala al-Khatib dan Taqrirat asy-Syadidah. Wallahu A’lam.
Telah dibaca kali

Posting Komentar

 
Top