Oleh: Abdul Mun’im Kholil, Lc


Syeikh Muhammad Al-Ghazali—seorang ulama Al-Azhar yang sangat produktif: bukan pengarang Ihya’— pernah mengatakan “saya tak pernah merasa kuatir dengan menguatnya the other (liyan). Yang paling saya kuatirkan adalah melemahnya kita sendiri”. Ungkapan ini sangat cocok mendeskripsikan kondisi kita saat ini; saat kita sering lupa melakukan instropeksi diri, saat kita gemar sekali menjadikan orang lain/kelompok lain sebagai “kambing hitam” kemunduran atau kegagalan kita sendiri.

Seperti organ tubuh yang sehat akan sulit untuk ditembus virus, demikian juga dengan individu dan instansi. Semestinya, kelompok Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) tak usah gusar dengan menguatnya kelompok lain di luar dirinya. Sebagai kelompok Islam mayoritas, dengan bangunan akidah yang mantap dan mapan, dengan tradisi yang mengakar semenjak masa salaf hingga masa kini, adalah jaminan imunitas (kekebalan) akidah Aswaja dari berbagai tantangannya.

Namun apa mau dikata, jika afiliasi kita pada Aswaja (yang di Indonesia dipresentasikan oleh NU) hanya sebatas “nama” atau “atribut” belaka. Pengajaran akidah 50 yang amat populer di masa lalu hanya menjadi “lipstik” di kelas-kelas, pesantren, langger dan masjid. Kita tak pernah benar-benar mendalaminya, sehingga mudah goyah tatkala harus berbenturan dengan ideologi baru (meski setelah ditelisik: sebenarnya tak benar-benar baru) yang diusung oleh kelompok lain. Padahal, akidah yang dibangun oleh para pendahulu kita sudah sangat lengkap dan efektif memantapkan akidah keimanan dan membentenginya.

Sudah waktunya, pengajian fikih disandingkan dengan akidah (jangan hanya fikih saja!), kajian dan diskusi diramaikan kembali sehingga kita tak ‘gagap’ menghadapi hal-hal baru. Kita juga tak akan kalap, seandainya ada liyan yang menanyakan tentang kebenaran akidah kita, menyinggung amaliyah dan ubudiyah kita sebagai bid’ah, fasik atau bahkan kufur.

Detail akidah yang diabadikan dalam kitab-kitab imam Asy’ari, Al-Baqillani, Al-Juwaini Al-Haramain, Al-Ghazali, Asy-Syahrastani, Fakhrudin Ar-Razi, Al-Baidlawi, Al-Iji, As-Sanusi, Al-Bajuri, hingga karya-karya Hadratus Syeikh kiai Hasyim Asy’ari adalah rumus-rumus ampuh untuk pemantapan akidah Aswaja.

Saya yakin, maksud dari shalawatan berisi pesan akidah yang dikarang oleh RKH. As’ad Syamsul Arifin, yang dimulai dengan kata “kauleh anyakse’eh...” bukan hanya sekedar agar di baca di musholla dan masjid saja. Shalawatan itu dikarang supaya dijadikan “titik awal” bagi generasi NU untuk mendalaminya lebih lanjut. Shalawatan dengan notasi lagu yang enak didengar adalah media paling cepat untuk menjadikan akidah 50 sebagai konsumsi masyarakat awam.

Kini, tantangan NU semakin berat. Derasnya media dan informasi, yang bisa diakses dalam hitungan detik saja, menuntut kita agar tak hanya diam berzikir di mihrab. Fenomena masyarakat sekarang lebih kompleks dari masa lalu. Beban moral kita bertambah. Tak hanya aspek akidah NU yang dipertanyakan, tapi juga sisi ubudiyah dan praktek tradisi yang sudah mengakarpun mulai digugat.

Di masa kini (dan masa depan), dakwah Aswaja tak cukup hanya melalui mikrofon. Kita juga harus aktif di internet karena kaum muda kita sangat aktif di media sosial. Tentu, setelah memantapkan akidah sendiri. Kita kalah cepat dengan kelompok lain yang mengaku Aswaja, namun sering menuduh Aswaja sebagai pelaku bid’ah. Akibatnya, hakikat Aswaja menjadi buram bagi pemula dan orang awam; siapa sebenarnya yang paling representatif mewakili Aswaja?

Pelatihan, pengajian, seminar dan diskusi tentang akidah Aswaja mutlak diperlukan dan sudah sangat mendesak. Sehingga kita bisa mengakrabkan lagi ajaran-ajarannya, baik secara ideologis maupun amaliah-ubudiyah. Jangan ada lagi ungkapan miris “saya tak tahu apa itu Aswaja dan NU, saya hanya ikut ortu atau guru.” Masyarakat NU harus mengatahui secara luas bahwa sekte Ahlussunnah membangun akidah dan ajaran syariatnya berlandaskan Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ dan Qiyas. Bila mengingkari salah satunya saja berarti sudah keluar dari keluarga besar Aswaja.

Ajarannya yang moderat dan mengakar kuat pada jejak-jejak Rasul SAW dan para khalifah yang empat, menjadikan Aswaja sebagai kelompok mayoritas. Tak ada “pengkafiran” dalam tubuh Sunni meski harus berbeda pendapat. Aswaja juga mengharamkan “kekerasan” dalam berpikir dan bertindak. Ideologi sekte ini tak menyebar karena sokongan dana yang melimpah. Ajaran Ahlussunnah diterima oleh mayoritas umat semata karena keseimbangan antara teks dan akal serta kesesuaiannya dengan tabiat dan fitrah manusia. Wallahu a’lam []

____________________________
Abstraksi tema Pelatihan Aswaja Center MWC NU Alaskokon-Pakong, 21 November 2014 M, di MMU 06 Sumberpandan.
Telah dibaca kali

Posting Komentar

 
Top