Menggenggam Tradisi Salaf merupakan slogan Madrasah Miftahul Ulum 06 Sumberpandan sampai detik ini masih disematkan. Tentu jangan hanya sebatas slogan yang tertera di dinding, website, jaket dan buku-buku saja. Harus ada kerja nyata yang mengimplementasikan slogan tersebut. Lalu apa upaya pengurus madrasah yang lebih dikenal dengan MMU 06 itu? Simak uraian singkat berikut ini.

Mengadopsi Kurikulum Pesantren Salaf
Selang beberapa tahun pasca didirikan, tepatnya pada tanggal 23 Robiul Awal 1416 H, Madrasah Miftahul Ulum resmi menjadi madrasah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan yang tak lain merupakan pondok yang begitu getol menggenggam tradisi salaf hingga kini.

Sejak tanggal tersebut nama Madrasah Miftahul Ulum diembel-embeli 06 di belakangnya yang menunjukkan urutan ranting dari pesantren Sidogiri untuk wilayah Madura. Tidak hanya itu, sejak itu juga seluruh mata pelajarannya mulai diserasikan dengan pesantren yang didirikan lebih 2 abad yang lalu itu. Meski tidak langsung dirombak total, namun sedikit demi sedikit seluruh kurikulumnya sama persis dengan yang diajarkan di pesantren yang didirikan oleh Sayyid Sulaiman tersebut.

Metode Pengajaran Ala Ulama Salaf
Hampir di setiap lembaga pendidikan baik yang diniyah apalagi yang formal sistem pengajarannya -kata mereka- kian dibenahi. Mulai dari sarana dan prasarana yang dipakai, sistem KBM, hingga kurikulum yang tiap tahunnya berubah. Namun tidak bagi MMU 06. Madrasah yang didirikan tahun 1410 itu sampai detik ini sistem pengajarannya masih model dulu atau kata sebagian orang dianggap kuno. Lihat saja, ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, anak didik tidak disediakan meja dan kursi seperti di lembaga-lembaga pendidikan kebanyakan, namun hanya sebuah dampar atau bangku yang usianya hampir sama dengan usia madrasahnya itu.

Dalam proses belajar mengajarnya pun MMU 06 masih mengadopsi sistem zaman ulama dulu. Seperti sistem sorogan, tulisan pegon, makna kitab, muhafadzah, nadzaman dan lainnya.

Pun juga dalam masalah kurikulum yang dipakai masih tetap setia sejak pertama resmi menjadi ranting pondok pesantren Sidogiri. Tidak seperti institusi formal yang gonta-ganti hampir tiap tahun atau yang lebih pasnya setiap ganti Menteri Pendidikan maka kurikulumnya ikutan ganti.

Berpenampilan Salaf Berotak Modern
Songkok dan sarung merupakan ciri khas kampung Sumberpandan di desa Alaskokon, terlebih yang masih berstatus santri maupun murid. Hingga oleh kampung-kampung tetangga, ketika melihat anak remaja yang bersongkok dan bersarung maka mereka langsung berucap "itu anak Sumberpandan".

Mungkin oleh sebagian kecil orang penampilan tersebut dianggap kuno dan katrok. Sebab, kata mereka, di era modern seperti sekarang ini bukan zamannya lagi pakai songkok dan sarung, tapi dengan celana jeans ngicis dan rambut yang dibiarkan terurai. Sehingga oleh sebagian mereka yang berpenampilan kuno tersebut dipandang sebelah mata dalam keilmuannya. Namun tidak! Sekali lagi tidak! Kapabelitas seseorang tidak dipandang dari penampilan namun dari kerja nyatanya.

Terbukti, meski berpenampilan salaf, namun tidak sedikit jebolan MMU 06 yang pandai dalam hal ilmu mutakhir. Lihat saja, kini madrasah yang didirikan atas inisiatif almaghfurlah KH. Syeikh Abdullah Schal itu sudah memiliki website sendiri. Website yang berdomain dot com tersebut -sampai tulisan ini dimuat- telah dikunjungi hingga tembus anga 18.865 kali. Bahkan peracik dan pengelolanya dari alumni murninya sendiri. Tidak hanya itu, besutan MMU 06 ada yang sudah bisa membuat aplikasi di berbagai platform. Mulai dari aplikasi untuk Symbian, Android, Windows dan aplikasi-aplikasi yang biasa dipakai di perusahan-perusahan, lembaga pendidikan dan pemerintahan. Bahkan belum lama ini aplikasi hasil racikan alumni MMU 06 itu ditawar 20 juta lebih.

Tidak hanya dalam ilmu informasi dan teknologi saja, dalam ilmu lain seperti jurnalistik, alumni MMU 06 ikut serta meramaikannya. Terbukti, mading milik MMU 06 kini disulap mirip koran. Mulai dari tampilan hingga kontennya. Bahkan jebolan MMU 06 ada yang menjadi perintis atas terbitnya majalan atau buletin di berbagai lembaga. Seperti Buletin Kreasi di YPI al-Ibrohimy Galis dan Buletin Kiswah yang diterbitkan oleh Aswaja NU Center Pakong.

Dalam ilmu Desain dan Grafis pun banyak alumni MMU 06 yang sudah mumpuni. Seperti  Zahiruddin yang kini diangkat menjadi desain grafis dan layouter di majalah Ijtihad dan buletin Sidogiri yang telah berskala Nasional. Habibi asal Ambulu Alaskokon menjadi fotografer dan desain pentas yang cukup dibilang piawai. Bahkan, tidak lama ini ada alumni MMU 06 yang mengikuti sayembara desain logo Fakher's Mania dan alhamdulillah dia memenangkannya hingga berhak membawa pulang sepeda gunung Polygon yang berharga jutaan rupiah. Serta beberapa alumni lain yang tidak mungkin disebutkan semua. Walluahu A'lam.


Telah dibaca kali

Posting Komentar

 
Top